Alami Tergeser Artifisial







Oleh : Devy Mariyatul Ystykomah

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat merupakan salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Bercerita tentang R.M. Soewardi Soerjaningrat, tentu akan mengalir pada dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia saat ini sangat labil. Bergantinya kurikulum yang tidak hanya sekali-duakali membuat siswa merasa menjadi kelinci percobaan dan guru semakin ditekan menjadi buruh yang harus menyiapkan segala perangkat. Hal yang disiapkan oleh guru belum tentu sama, antara perencanaan dengan praktik atau kerja nyatanya. Pendidikan kian terbantu dengan adanya alat-alat komunikasi. Bahkan kertas mulai bergeser pada layar yang menyala. Hal ini juga dapat diterapkan pada kurikulum yang sedang dinikmati sebagian sekolah yang masih menggunakannya.
Hari ini dapat kita saksikan hampir 12 kali kurikulum diganti. Berawal dari Rencana Pelajaran 1947 yang melanjutkan kurikulum belanda. Seusai itu, dilanjutkan Rencana Pelajaran Terurai 1952 yang lebih rinci, Satu guru memegang satu mata pelajaran. Lalu Rencana Pendidikan 1964 mengusung Pancawardhana yang didalamnya ada moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani . setelah RP 1964 dilanjutkan Kurikulum 1968 yang mengubah pancawardhana menjadi pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Seusai Kurikulum 1968 dilanjutkan Kurikulum 1975, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Namun kurikulum 1975  banyak dikritik karena guru menjadi sibuk menulis rincian yang dicapai, lalu diganti dengan Kurikulum 1984yang dikenal CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).
Kurikulum 1984 berlangsung 10 tahun, tak bosannya Indonesia menghadapi pergantian kurikulum. Kurikulum 1984 diganti dengan kurikulum 1994 yang memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 1994 yang dirasa perpaduan kurikulum-kurikulum sebelumnya, tetapi hal itu bukan berarti ada ketepatan. Karena kompleksnya kurikulum 1994 ini dirasa memberatkan siswa. Kurikulum tersebut diganti lagi dengan suplemen Kurikulum 1999 yang menambah  beberapa materi saja dibandingkan kurikulum 1994. Berlalu lima tahun, kurikulum tersebut diganti dengan kurikulum 2004 yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dianggap rancu kurikulum tersebut diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau Kurikulum 2006 yang sering disebut Kurikulum Tidak Siap Pakai. Dirasa perlu ada perubahan, KTSP pun diganti dengan K13. Kurikulum yang dirancang baik dalam  bentuk dokumen, proses, maupun penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan pelajaran. K13 berjalan tidak sempurna, karena siswa dengan guru dirasa tidak siap menggunakan kurikulum ini maka, ada kebijakan yang menyatakan sekolah boleh beralih ke KTSP jika tidak siap. Dengan bergantinya kurikulum di Indonesia menunjukan kecemasan di dunia pendidikan belum berakhir. Padahal jika diingat tujuan pendidikan di Indonesia yang katanya mencerdaskan kehidupan bangsa sekarang bergeser melelahkan kehidupan siswa dan guru.
Dalam kajian diskusi Bangsal J, salah satu kawan mengungkapkan keresahan terhadap dunia pendidikan. Selain pendidikan yang rumit dikurikulumnya, pendidikan juga semakin mahal. Guru atau yang sekarang sering disebut tenaga pendidik yang dulunya disebut “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” saat ini sudah mulai tergeser dengan nilai rupiah. Guru-guru dicetak sebagai buruh pendidikan. waktunya dihabiskan untuk menyiapkan perangkat dan menyiapkan kenaikan gaji. “Tidak dapat dipungkiri, kita butuh hidup.” Bantahan salah satu kawan ketika yang lain mengkritisi tenaga pendidik. Memang benar, manusia memerlukan biaya kehidupan. Apalagi biaya untuk mendapatkan sarjana itu tidak hanya ditempuh dengan otak saja, tapi juga dengan biaya. Bahkan kasus-kasus bulan ini banyak ditemukan ijazah palsu, perkuliahan yang tidak sewajarnya dalam memenuhi SKS, dan banyak kasus lain yang menjadi bahan pembicaraan di dunia maya maupun perbincangan di warung-warung. Jika mengupas permasalah dunia pendidikan seolah tak ada habisnya dan titik temu yang dicari kian mengajak main-main hingga menyembunyikan diri.
Rumitnya pendidikan di Indonesia semakin mengakar dan mencabang. Pendidikan yang dulunya sederhana tapi memberi wawasan kehidupan yang luas, sekarang menjadi rumit dengan segala persiapan dan pelaksanaannya. Berbeda jauh dengan R.M. Soewardi Soerjaningrat yang menjadikan semesta tempat belajar. Tidak memusingkan perangkat yang rumit serba mengarang agar sesuai dengan kondisi lingkungan. Pemahamannya lebih pada praktik ke alam, bukan pada artifisial. Artifsial yang dimaksudkan pada alat-alat canggih buatan manusia yang membuat proses semakin instan. Pendidikan ala R.M. Soewardi Soerjaningrat yang mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenalkan pendidikan pada alam yang bisa mengajarkan segala permasalahan dalam kehidupan. Belajar lebih pada permainan alam dan menemukan hasil pada alamnya. Pendidikan zaman sekarang ingin menerapkan kajian alam pada tumpukan-tumpukan ilmu siswanya, namun pada fakta dilapangan hal itu masih sulit dijangkau. Pendidikan masa kini mengandalkan kecanggihan alat komunikasi dan dampak buruk pada tekhnologi ialah semakin individualisnya sisw. Dulu siswa di taman kanak-kanak diajari belajar dari permainan-permainan yang dipandu gurunya, namun saat ini lebih pada kemajuan yang semakin pesat. Pendidikan di taman kanak-kanak menjadi awal belajarnya siswa untuk bisa membaca dan berhitung. Mari kita berimajinasi pendidikan di tingkat nol, pada wzktu 10 tahun kedepan. Apakah harus menghafal rumus matematika, fisika, kimia, bahkan statistik?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Pendidikan di Indonesia

Laptop ASUS Terbaik: Ini Jawabannya!