Melawan Patriarki : Sketsa Perempuan yang Melepas Ketertindasannya
Sketsa Perempuan yang Melepas Ketertindasannya
Oleh : Devy Mariyatul Ystykomah
Perempuan membutuhkan informasi
seputar kehidupan perempuan lain yang selama ini melekat pada dirinya.
Perempuan perlu diperkenalkan kehidupan yang luas, yang berliuk-liuk, dan
dipenuhi kerikil serta semak belukar. Dalam kehidupan seperti itu, mereka
sangat mungkin untuk menjadi subyek di atas persoalan, membantu masyarakat
keluar dari penderitaan, memberi inspirasi untuk melakukan sesuatu yang lebih
luas. Lebih merdeka.
- Jurnal Perempuan -
Realitas yang ada, geliat
‘Emansipasi’ dikobarkan perempuan sebagai bendera pembebasan bagi kaumnya.
Perempuan merasa tertindas, merasa ingin disamakan derajatnya dengan laki-laki.
Namun di sisi lain, sebagian besar gerak perempuan masih saja ditenggelamkan
dalam lautan hedonisme dan tertipu gemerlapnya iklan-iklan di televisi dan
koran.
Mereka menjadi sasaran
utama para kapitalis. Perempuan dianggap mahkluk konsumtif, setidaknya
dibanding laki-laki - para kaum Adam - yang sebenarnya juga tak jauh berbeda.
Perempuan masa kini, seolah kehilangan identitas. Tak hanya dibutakan oleh
kondisi yang mendewakan mereka ibarat dewi-dewi di sangkar emas, mereka juga
terjebak dalam tatanan adat istiadat dalam memperjuangkan haknya. Ketabuan
untuk melangkah di luar kodrat yang sudah digariskan dalam bentuk-bentuk yang
baku dalam perspektif patriarki.
Keadaan itu dipandang
terlalu mengekang dan tidak memberdayakan perempuan. Orde baru begitu hebat
memasung hak perempuan dengan aturan dan ketabuan adat. Perempuan hanya
dijadikan tempat meluapkan nafsu dan membantu segala kebutuhan rumah layaknya
pembantu rumah tangga. Sementara ruang-ruang publik haram bagi mereka.
Penindasan yang luar
biasa. Tidak hanya hak perempuan saja untuk mengaktualisakan diri, orde baru
meninggalkan sejarah tentang kasus tanah, perburuhan, keamanan hingga hak asasi
manusia.
Disanalah Ayu Utami
merefleksikan kehidupan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan
rezim orde baru, yang terjadi pada tahun 1990-an dalam novel Saman.
Novel Saman adalah
gambaran peristiwa persengketaan tanah dan kerusuhan yang terjadi pada masa
orde baru. Ayu menyisipkan perilaku seksual yang dianggap menyimpang oleh
masyarakat. Fakta yang terjadi sepanjang sejarah manusia, mereka yang
bertingkah laku seksual ‘tak lazim’ diperlakukan dengan cara yang berbeda-beda
oleh masyarakatnya. Ada yang dikucilkan, dipasung, disiksa hebat, bahkan banyak
pula yang dibakar dan dibunuh. Tingkah laku patologis – penyakit masyarakat –
yang tak bermoral dan pantas
dimusnahkan. Dalam gaya penulisannya yang unik, Ayu berusaha menggambarkan
peristiwa persengketaan tanah dan kerusuhan menjadi isu sensitif di
masyarakat. Dimana diubahnya kebun karet menjadi kebun kelapa sawit mendapat
resistensi dari masyarakat.
Hal ini mengakibatkan
oknum penguasa di Sei Kumbang melakukan tindakan sewenang-wenang. Mereka
memaksa penduduk untuk melepaskan tanahnya. Mereka menggunakan kekerasan untuk
mempengaruhi pikiran petani, dengan cara meneror, menindas, memperkosa, bahkan
membunuh. Pada masa itu, terjadi kerusuhan yang disebabkan unjuk rasa buruh
yang memunculkan wajah rasis. Pemerintah menanggapinya dengan cara kekerasan.
Melalui aksi-aksi aparat keamanan atau militer yang semakin brutal dan tidak
terkendalikan. Tuntutan itu dijawab dengan pukulan, gas air mata, aksi
penculikan hingga penyiksaan. Tindakan represif yang juga menimpa para
perempuan. Tak hanya itu, novel Saman berani mendobrak ketabuan yang
sangat membebani kaum hawa. Seks bukanlah sekadar bumbu cerita tetapi menjadi
bagian dalam cerita itu sendiri.
Dengan ringan para tokoh
berbicara tentang seksualitas yang tanpa tedeng aling-aling. Sangat vulgar dan
apa adanya. Perempuan berani menunjukkan hasratnya tanpa malu. Sesuatu yang
selama ini dianggap tabu bagi perempuan ternyata ditampilkan dengan cukup
mengejutkan. Saman seolah
membawa pembaca ke ruang-ruang erotis dan menggairahkan. Tentang
tubuh perempuan dan eksploitasi seks dalam perspektif sejumlah tokohnya. Seperti yang ditampilkan dalam tulisan ini :
Uskup telah mengabulkan proposalnya untuk berkarya di
perkebunan. Namun satu pekan dalam sebulan ia tetap kembali ke prabumulih,
membantu Pater Westenberg yang ia anggap berjasa. Suatu kali, ia pergi ke kota
itu dua minggu lamanya, sebab pria Belanda itu sakit demam. Ketika ia kembali
ke lubukrantau, ibu Argani menceritakan satu hal yang begitu mengejutkan dia.
Dua laki – laki menjebol rantai pintu rumah Upi dan memperkosa gadis yang kini
telah dua puluh satu tahun. Mereka meninggalkan pagutan – pagutan merah di
dadanya.
Wis menelan ludah dan menggigit bibirnya hingga hampir
berdarah. “Bagaimana keadaannya?”
tanyanya sambil bergegas ke tempat perempuan muda itu, meninggalkan
ibunya yang belum selesai bercerita. Ia merasa lemas sebab tidak tahu harus
berbuat apa, sebab barangkali si gadis malah menyukai pemerkosaan itu. Dan ia
tak pernah tahu bagaimana menyelesaikan persoalan ini.
“Upi baik – baik saja,” sahut Anson yang mengiringi. Wis
memang menemukan gadis itu tertawa – tawa saja di dalam kandang, menyapa dengan
riang melihat dia kembali.
“Bagaimana kalau dia hamil?” kata Wis dengan getir pada
Anson kemudian.
“Tak tahulah, Bang. Kalau dia punya anak, biar istriku
yang merawat. Dulu belum belum pernah sampai hamil.” Anson telah kawin tiga
tahun lalu. Pemuda itu selalu heran kenapa Wis yang lebih tua tujuh tahun tidak
mau juga menikah, dan Wis selalu malas menjelaskan. Anson memperhatikan adiknya
sesaat, lalu menatap Wis seperti ada yang hendak dilaporkan.“Ada yang lebih
gawat, Bang,” katanya kemudian.
(Saman : 90)
Ayu juga menggambarkan
bagaimana seorang perempuan diperkosa. Menjadi sarana teror bagi masyarakat.
Sebuah kondisi sosial dimana kaum hawa hanya menjadi korban yang tak berdaya.
Sedang ia merenung – renung, tiba-tiba ia mendengar lagi
suara-suara dari belakangnya. Kali ini tidak sayup-sayup, melainkan teramat
jelas di telinganya, seperti menghentak. Suara-suara itu bagai memberitahu
sesuatu tanpa menjabarkan. Dan ia melompat, bergegas keluar, sambil berseru:
“Anson! Istrimu!” “Istrimu!”
Jarak rumah asap ke tempat tinggal Anson sekitar tujuh
puluh meter, namun terhalang bedeng dan lain sehingga anak-anak yang berjaga di
luar tidak bisa melihatnya. Tetapi dengan pasti Wis berlari kesana. Anson yang
terkejut segera mengikuti. Kerumunan buyar ke satu arah. Sebagian tiba lebih
dulu di rumah itu. Sisanya meyusul dengan obor-obor . Ketika rombongan yang
pertama tiba, mereka melihat bayangan berkelibat keluar, kabur ke pepohonan.
Beberapa orang memburunya, meski malam terasa begitu pekat sebab listrik tak
lagi mengalir.
Anson menerobos kedalam rumah, dengan sorotan senter ia
dapati istrinya yang telanjang serta pantalon satpam kebun yang terserak di lantai. Perempuan itu menangis
sambil terbatuk hebat, seperti sesuatu baru saja menyedak lehernya. “Mereka
berdua,” kata wanita itu tersendat –
sendat. Di dapur terdengar suara kaleng jatuh.
Seseorang yang bersembunyi mencoba lari, tetapi penduduk
telah mengepung rumah itu. Beberapa detik saja mereka meringkus lelaki yang
belum sempat bercelana dan menyeretnya ke rumah asap. Wis melihat Anson
menghapus sisa sperma di paha istrinya, dan ia menjadi begitu gundah.
(Saman : 100)
Kukuhnya masyarakat
mempertahankan kebun karetnya di balas dengan kepicikan orang – orang suruhan
perusahaan Sei Kumbang yang memperkosa perempuan di lubukrantau hingga tak
pandang perempuan itu waras atau keterbelakangan mental sekalipun. Hingga mereka
membakar perkebunan sampai rumah di lubukrantau. Mengapa hal itu mereka
lampiaskan pada perempuan? Tidakah ada cara lain yang ‘lebih pantas’ daripada
merenggut kelamin para perempuan desa. Mengenaskan.
Ayu berusaha menjelajah
kondisi politik di era itu. Ia mengkritik kinerja pemerintah orde
baru yang kurang becus dalam mengurus masyarakatnya. Meskipun penggambarannya
tidak secara terang terangan, namun novel ini sebenarnya mengulas persoalan
politik dan kekuasaan. Yang ditunjukan
dengan jelas dalam kasus perusahaan perkebunan karet. Dimana para aparat
mengklaim tanah tanah penduduk Lubukrantau sebagai tanah perusahaan. Demi membenarkan
tindakan itu, para aparat menunjukan surat pengantar dari gubernur. Tindakan
teror yang – sekali lagi– terlegitimasi oleh kekuasaan.
Anson segera berusaha, mengulangi jawaban Wis dengan
kegemaran yang sama. Kami memang mendengar bahwa PTP merugi di kebun karet ini,
lalu menyerahkannya kepada perusahaan baru yang mau menjadikannya kebun sawit.
Tapi sebetulnya tidak seluruh lahan karet di Sei Kumbang itu gagal. Kebun kami
menghasilkan dan kami tak alpa mengangsur utang. Pohon-pohon baru yang kami tanam telah bisa disadap. Desa
ini maju. Kalau kini perusahaan hendak mengubah kebun karet yang rusak menjadi
kebun sawit, silakan. Tapi jangan pada lahan karet kami yang subur. Bukankah
transmigrasi ini dibuka untuk petani?
“Persoalan itu Bapak tanyakan saja pada Bapak-Bapak di
perusahaan. Kami cuma bertugas menjalankan perintah Bapak Gubernur.”
(Saman : 93)
Tetapi perempuan –
perempuan di novel Saman tidak semuanya lemah, Yasmin, Laila, Sakuntala, dan
Cok, mampu menjadi dirinya sendiri. Keempat perempuan ini dan menjadi apa yang
mereka inginkan meski harus melawan kehendak –kehendak orang tuanya. Meski
mereka melawan ketertindasan, dengan caranya sendiri. Mereka menikmati dunia
seks yang menggiurkan. Berbagai kisah cinta anak manusia disuguhkan dengan menghilangkan
sekat tabu. Berbagai
karakter tokohnya sangat mendukung hal itu. Laila menjadi seorang penulis
dan fotografer, dua pekerjaan yang pada jaman dulu tidak banyak di lakukan oleh
perempuan. Ayu menggambarkan kebebasan perempuan melalui pekerjaan yang di
pilih laila. Meski demikian Ayu tetap menyelipkan bumbu – bumbu seks dalam
kisah perjalanan hidup Laila. Laila salah satu perempuan yang
sempat jatuh hati pada Wis atau Saman. Ia jatuh hati pada Sihar. Walau tidak sampai berhubungan
intim namun perselingkuhan Laila dengan Sihar, seorang pekerja di Lubukrantau
yang sudah beristri.
Lalu kami berbaring di ranjang, yang tudungnya pun belum
disibahkan, sebab kami memang tak hendak tidur siang. Dia katakan, dada saya
besar. Saya jawab tidak sepatah kata. Dia katakan apakah saya sudah siap. Saya
jawab, tolong, saya masih perawan. (Adakah cara lain.) dia katakan, bibir saya
indah. Ciumlah. Cium di sini. Saya menjawab tanpa kata-kata. Tapi saya telah
berdosa. Meskipun masih perawan.
Di perjalanan pulang dia bilang, sebaiknya kita tak usah
berkencan lagi (saya tidak menyangka). “Saya sudah punya istri.”
Saya menjawab, saya tidak punya pacar, tetapi saya punya
orang tua. “kamu tidak sendiri, saya juga berdosa.”
Ia membalas, bukan itu persoalannya. Orang yang sudah
kawin, tidak bisa tidak begitu.”
Saya mengerti. Meskipun masih perawan.
(Saman : 4)
Sakuntala. Ia sangat
membenci ayahnya. Memilih jadi penari yang sedang menempuh studi master
di New York. Ketika ia mengurus visa di kedutaan besar Nederland, yang ditanyakan
pengurus adalah nama keluarga. Dan ia cukup menjawab “Nama saya Sakuntala,
orang jawa tidak punya nama keluarga.” Tentu Sakuntala tidak mau menggunakan
nama ayahnya, dan ia lebih memilih menggagalkan mengurus visanya dan tidak
pergi ke negeri raksasa tersebut. Lalu ia mendapat kesempatan beasiswa yang
diberikan Asian Cultural Centre untuk mengeksplorasi tari. Ia tinggal di New
York dan ia akan menari jauh dari ayahnya, itu merupakan hal yang sangat
menyenangkan bagi tala. Lalu ia melobi untuk mengurus visa agar tidak
memaksanya memasukan nama ayahnya di dalam dokumen-dokumen.
Tala
merupakan salah satu dari 4 sahabat yang pernah melakukan seks di kali dengan
seorang raksasa yang mengintipnya saat menari tanpa mengenakan busana. Berawal
dari raksasa yang mengisap puting susu sakuntala, mereka melakukan persetubuhan
dengan membicarakan tentang negerinya masing-masing. Sakuntala menceritakan
orang timur yang luhur. Dan orang timur mengaggap orang barat bejat. Di negeri
timur seks merupakan milik orang dewasa, berbeda dengan barat yang wanitanya
memakai bikini di jalan raya, tidak menghormati keperawanan, bahkan anak-anak
sekolahnya, lelaki dan perempuan tinggal tanpa suatu ikatan pernikahan. Timur
dan Barat merupakan konsep yang amat ganjil.
Sedangkan
Cok saat
masih duduk di bangku SMA tiba-tiba ia dipindahkan ke jakarta oleh orang
tuanya, karena ayahnya menemukan kondom di tas Cok. Cok merupakan gadis genit
yang tidak pernah menemukan musuhnya selain sirik pada murid yang cantik di
kelas 2 C. Cok meneruskan kuliahnya di perhotelan, karena ia ingin meneruskan
bisnis ibunya. Ia ingin membuka Bungalow. Cok yang membantu Yasmin untuk
membawa Saman pergi ke New York. Di antara Laila, Sakuntala, Cok ada Yasmin
yang menjadi pengacara di kantor ayahnya. Sebagaimana kita ketahui, perempuan
yang menjadi pengacara di era 1990-an bukanlah hal yang mudah. Sakuntala
berhasil membawa Saman Kabur ke New York. Tetapi dalam perjalanan mereka sempat
melakukan hubungan intim, padahal Yasmin sudah bersuami. Bagi mereka Seks
merupakan sebuah kesibukan yang asyik, bahkan perselingkuhan bukan hal yang
menjijikan di dalam novel ini.
Perjuangan
perempuan-perempuan di novel Saman, samahalnya dengan Riwayat Wartawati dalam Penjara Orde Baru yang ditulis Sudjinah pada Terempas Gelombang Pasang. Gerak wanita
begitu hebat. Beberapa pimpinan Gerwani, yang juga anggota parlemen, mendapat
kesempatan untuk menempati beberapa gedung di kompleks Senayan yang memang
disediakan untuk mereka, meskipun hanya sementara waktu karena rumah mereka
dijarah dan dirusak oleh para perusuh di mana di belakangnya biasanya ada pula
aparat keamanan yang ikut serta. Mereka ingin mengetahui kebenaran kabar
tersebut dan memutuskan pergi ke Senayan
untuk mencari tahu tentang keadaan Gerwani yang menempati gedung di Kompleks
Senayan. Kolonel Suwondo menugaskan sopirnya untuk membawa mereka ke tempat
tersebut.
Sepanjang perjalanan
menuju ke Senayan, mereka terus memperhatikan kiri-kanan untuk mengetahui
segala yang terjadi . semua di lakukan
dengan penuh perhitungan. Sebelum sampai ke tempat tujuan,mereka memutuskan
untuk berhenti dulu di sebuah warung, dan pura-pura membeli sesuatu sambil
bertanya- tanya kepada pemilik warung tentang orang- orang yang tinggal di
kompleks itu. Ternyata mereka mendapati jawaban yang mengejutkan. Pemilik warung itu, dengan penuh emosi,
mengatakan, “Ah tadi malam semua wanita di dalam rumah itu di bawa pergi oleh
pasukan militer entah kemana. Apa
sebenarnya yang telah mereka lakukan seperti penjahat begitu. Padahal mereka
sudah tua- tua ...!”
Perjuangan perempuan-
permpuan ini samahalnya yang dilakukan oleh Yasmin dan Cok saat membawa Saman
pergi dari Indonesia menuju New York. Perempuan- perempuan di Saman sama
hebatnya dengan perempuan yang di Terempas Gelombang Pasang, mereka
memperjuangkan hak dan memperlihatkan bahwa permpuan tidak hanya menjadi
sasaran nafsu atau penonton sejarah kehidupan.

Bagus..baguss.. 4 jempol deh, hehehe
BalasHapusTerimakasih beb.....
BalasHapusKritiknya mana??? :-)