Untukmu selamanya
“Kriiiiiiing.........”
Bunyi beker mengejutkanku pagi ini, tapi aku enggan sekali untuk bangun
dari tempat tidur. Lalu suara ibuku
menyusul beker itu seolah memecahkan isi rumah. Akupun bergegas bangun untuk
mandi dan siap-siap ke sekolah. Pukul 06.15 aku baru sampai dengan mimi
sobatku. Kita langsung munuju lapangan setelah memarkir sepeda motor, semua
siswa baris rapi dan aku bersama mimi menyusul di barisan paling belakang.
Sambil mendengar pengarahan try out dari waka.kesiswaan, aku memandangi gerbang
sekolah. Aku terus berharap erif cepat datang agar tidak terlalu terlambat. Pandanganku
gugup, “Apa dia sudah di perjalanan? , ataukah masih di rumah untuk setrika
seragamnya? , atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada diriya?” berbagai
pertanyaan muncul di benakku. Suara hatiku pun gemuruh tak pasti seakan
mengalahkan suara-suara yang ada di sekitarku. “Alhamdulillah.....” ucapku saat
ku lihat dia berjalan dari arah gerbang, menuju ke parkiran dan menyusul ke barisan
putra. Sempat ku pandag erif, dia pun tersenyum padaku. Hatiku pun senang dan
tenang, karena aku bisa memaknai arti senyumya. Senyum yang mengandung makna
“Alhamdulillah..,aku sudah sampai dengan selamat”. Memang erif tak banyak bicara,dia
sangat pendiam, tapi dalam kediaman,raut wajah dan bahasa tubuhnyalah aku
mengenalnya lebih dalam. Aku pun sempat menjalani kisah cinta dengannya selama 13
bulan tepatnya 4 bulan yang lalu, namun semua itu harus kandas tanpa konflik
apapun. Dia meminta untuk menyudahi hubungan kita, “kenapa semua ini harus
berakhir,apa aku punya salah ma kamu?” tanyaku. “tidak,kamu tidak
salah!”sahutnya dengan tegas. “lalu kenapa kamu ingin kita putus?”tanyaku degan
tetesan airmata, “karna aku nggak mau kamu selalu terluka dengan smua sikapku?
Aku nggak mau orang yang ku sayangi terluka!” jelasnya. “kalo kamu nggak ingin
aku terluka kenapa kamu pilih jalan seperti ini? Aku sangat terluka dengan
semua ini?”sahutku. dia menjawab “Jujur aku minta hubungan kita berakhir karena
ibuku. Ibuku memarahiku agar aku konsen ke pelajaran dulu lagian kita kan udah kelas
XII. Meski kamu bukan milikku lagi, tapi kamu kan slalu ada di dalam hatiku.” Kata
itulah yg slalu ku ingat. Aku merasa alasannya sama sekali tidak logis, aku
selalu mencari informasi tentangnya dengan diam-diam. Sampai detik ini pun
hatiku seutuhnya masih untukya. “Aaaaach.....,semua ini hanya buatku sakit
hati,biarlah kini ku sendiri dengan smua rasa cintaku untuknya! Karna bisa
deket ma dia saja dan selalu ada buat dia,itu sudah cukup bagiku” fikirku.
Seusai pengarahan dari
waka.kesiswaaa,dilanjutkan dengan doa yg di bacakan oleh p.zuhal beliau adalah
guru yang paling mengesankan bagiku. Beliau selalu memberi motifasi untuk
murid-muridnya. Setelah itu semua siswa-siswi
kelas XII masuk ke ruang ujian. Aku mendapat tempat duduk di barisan nomer dua
dari depan dan paling barat. Pengawas ruangku pun membagikan soal setelah
beliau mengucap salam. Aku beserta teman-teman seruangku sangat kesulitan
mengerjakan soal-soal matematika. “huuuuuch...,soalnya bikin aku mati berdiri Rin!” ucap titin temanku. “mati berdiri gimana? La dirimu lho duduk tin?”
jawabku dengan canda. “haaaach...,ngomong ma kamu sama saja kayak ngomong sama
burung!” jawabnya dengan sebel. “uwww....,burung ya? Enak donk bisa
terbang....hehehe!” sahutku dengan canda lagi.
“teeetttttt....”
bunyi bel pertanda waktu mengerjakan tinggal 15 menit. Setelah itu soal di
kumpulkan dan aku menuju ke kantin bersama sohibku “mimi” dan teman-temanku
lainnya. “mi,aku kok sama sekali nggak ngliat erif ya,apa dia sama ina ya?
Tanyaku dg memandang sekitar kantin, ina adalah cewek yang dekat ma dia dia di
kelasnya, ina memang suka ma erif. “heemmmm....,Arin...Arin tau tu anak kemana!
Hayooo...,gitu aja kok sudah cemas,
kangen ma cemburu jadi satu ya...!”
jawab mimi dengan sedikit menggodaku. “nggak!! kenapa juga aku cemasin tu anak,
aku cuman mau nanyain novelku yang dipinjamya kemarin.” Sahutku dengan sinis.
“halllllach....., kangen juga nggak papa, toh nggak da yang marah!
Alasanyananya novel biar bisa ngobrol kan?” goda mimi lagi. “aaaaach....,udah makan yuk,
baksonya keburu dingin nanti” jawabku untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“heeemmmb...., kalo kangen ngomong aja, nggak usah pake gengsi!”
mimi terus menggodaku,tapi aku hanya diam dengan wajah yang memerah, karena
menahan rasa malu. Seusai makan kami pun kembali ke kelas untuk mengikuti
pelajaran.
“tett...,tett...,tetttt........”
bunyi bel pertanda pelajaran hari ini telah usai. Aku memasukan buku-buku
ke dalam tas dan bergegas pulang. Sesampai di rumah aku ganti baju,cuci muka
dan langsung tidur siang. Malamnya aku juga tidak keluar kamar aku memutuskan
untuk belajar dan sms-an dengan temana-temanku. “I will always love you....” tiba-tiba
ponselku brbunyi pertanda ada pesan. Saat ku buka pesan itu teryata dari erif.
Aku sangat senang malam itu bisa sms-an ma erif. Ke-esokan harinya,sepulang
dari sekolah aku mengajak mimi ke warnet dekat dengan kos-kosan erif. Aku
mencari tugas, tapi terlintas di fikiranku untuk sms erif. Aku pun mengirim
pesan ke erif, aku meminta bantuannya untuk menghampiriku di warnet dan
menghapus smua data-data yg da di memory card ponselku, Karena terlalu banyak
virus. Dan laptopku juga masih belum di servisin, aku pun menunggunya sambil
mencari tugas. 2 jam setelah aku mencari tugas aku memutuskan untuk pulang,
“karna tak mungkin dia datang untukku”fikirku. Dalam perjalanan aku menghapus
semua pesan yang ada di inboxku ternyata tadi dia mengirim pesan dan menungguku
di depan warnet sedangkan aku tak tahu kalo dia udah nunggu aku selama 15
menit. Baginya menunggu 15 menit sama-halnya dengan menunggu 15 jam. Akhirnya
dia memutuskan untuk kembali ke kos-nya. Pesannya yang dia kirim pun baru masuk
di hp-ku. Aku meminta maaf ke erif lewat pesan,tapi tak satu pun ia membalas
sms-ku, Aku pun bingung dan sedih.
Waktu menunjukan pukul 06.20
aku baru sampai di sekolah,aku langsung ke tempat parkir. “Arin...?”panggilnya
sambil menghampiriku di parkiran. Aku sangat takjub mendengarnya memamnggilku.
“iya,ada apa rif?” jawabku dg mata berbinar, “hemmm...,memory-cardnya mana?”
tanyanya lagi. “lho....,kamu nggak marah ma aku kemarin?” sahutku sambil
membuka tas dan mengambil memory di dalam dompetku, ku berikan memory itu ke erif. “ku bawa dulu ya?”ucapnya,
“ya,sebelumnya makasih ya?”jawabku sambil menganggukan kepala. Dan dia berlalu
menuju ruangan try out-nya.
Sepulang sekolah aku langsung bergegas untuk menuju tempat parkir, dalam
perjalananku ke tempat parkir aku sempat menengok kelasnya. Ternyata dia masih
di kelas berdua dengan ina. Melihat itu aku sangat hancur, menangis terpaku
dengan pemandangan yang sama sekali tidak aku inginKan. Aku melihatnya bercanda
dengan cewek yang menyukainya,aku langsung lari dan mengambil motorku. Dalam
perjalanan pulang, aku melaju sangat tinggi ditemani dengan tetesan airmata dan
sesalku percaya kata-katanya. Padahal selama ini aku masih berharap dia akan
kembali untukku,untuk cintaku dan semua harapanku. Apalagi aku ingat
kata_katanya : “Jujur aku minta hubungan kita berakhir karena ibuku. Ibuku
memarahiku agar aku konsen ke pelajaran dulu lagian kita kan udah kelas XII.
Meski kamu bukan milikku lagi, tapi kamu kan slalu ada di dalam hatiku.”
Alasanya saat dia mengakhiri hubungannya denganku. “apa kemarin dia
membohongiku? Apa kata-katanya hanya alasan agar dia bisa meninggalkanku saja?”
pertanyaan yang muncul di benakku. Dengan kelajuan tinggi itu aku tak sadar
bahwa di hadapanku, di arah yang berlawanan ada sebuah mobil yg juga melaju
tinggi. “brooooookkkk...” tabrakan pun
terjadi aku terlempar ke tepi jalan dan jilbab putihku berubah warna
merah karena terlumuri darah. Aku di larikan ke rumahsakit terdekat. Setelah
mendengar erif mendengar kabar,dia langsung ke rumah sakit untuk melihat
keadaanku. Erif sangat gugup dan panik, karena akupun belum sadarkan diri.
Selama aku koma erif terus
menemaniku, bahkan ia rela tidur di rumahsakit sambil menunggu sadarku. Empat
hari setelah kecelakaan itu akhirnya aku sadarkandiri, ayah-bundaku sangat
senang aku bisa membuka mata. Orang
tuaku, erif, sahabat-sahabatku pun
memandangku dg tangisan bahagia tentunya, karena aku sudah sadar. Tak
lama aku sadar aku hanya ingin bicara dengan erif “terimakasih telah memberiku
kesempatan untuk mencintaimu,merasakan kasih sayang darimu, hingga merasakan
sakit hati karena cintamu” ucapku dengan pelan, “maafkan aku?” jawabnya dengan
tetesan airmata. “satu yang pasti rif,cintaku hanya untukmu selamanya. Meski
raga ini mati, tapi rasa cinta ini tak kan mati.”ucapku, “nggak,kamu nggak
boleh ninggalin aku dan semua yang ada disini, kamu pasti kuat,”ucapnya, “aku
slalu mencintaimu rif,untuk selamanya” ujapku terakhir saat ku menghembuskan
nafas yang terakhir. Erif, keluarga serta sahabat-sahabatku menangisi
kpergianku. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, apakah erif masih
menyimpan rasa cintanya untukku ataukah dia sudah melupakan aku. Aku juga tidak
tahu apakah ada rasa sesal dalam hati erif. Tapi satu yang pasti, aku bisa
mencintainya dengan ketulusanku hingga akhir waktuku pun cintaku hanya untuknya
slamanya meski semua itu terabaikan olehnya.
Karya : Devy Mariyatul Istiqomah, 2009


Komentar
Posting Komentar