Hangatnya Pelukan Bu Elaa
KGB bisa mandiri karena peran KGC? Itulah
pertanyaan yang sering muncul tentang komunitas ini. Padahal itu cara berpikir
yang kurang pas. Salah alamat. Bahkan menurut bu Najelaa Shihab, pertanyaan itu
muncul karena cara berpikir yang salah.
Mengapa? Menurut bu Najelaa, kami sering
menyapanya dengan bu Elaa, KGB sudah mandiri. Bahkan sejak dalam pikiran. “Sejak
awal teman-teman bergabung di sini itu, kita sudah bilang berkali-kali bahwa
teman-teman sudah merdeka dari sono-nya,”
ungkap pendiri KGC ini saat kongres pertama KGB, 25 Oktober 2019 lalu.
Bu Elaa mungkin tidak mau menghubungkan
bahwa dua singkatan ini sebenarnya cukup identik. Hanya beda huruf belakangnya
saja, B dan C. Meski faktanya, KGB adalah singkatan dari sebuah komunitas,
yakni Komunitas Guru Belajar. Sementara KGC adalah nama sebuah kampus. Kampus
Guru Cikal.
Dihubungkan dari identitas ‘guru’,
keduanya berkolaborasi untuk saling menumbuhkan. “Semuanya sudah ada di diri Anda. Apa itu guru merdeka? Komit
dengan tujuannya. Mandiri, ya kan? Refleksi. Jadi jangan bilang KGB sekarang
mandiri dari KGC. Dari awal KGB sudah mandiri," sambung bu Elaa
penuh semangat.
Bu Elaa
memang luar biasa. Tak mau mengagungkan kerja kerasnya yang tentu saja sangat
berarti bagi kami. Kata-katanya bak mantra yang mengiang dan selalu membuat
saya rindu. Bagaimana tidak? Bu Elaa selalu memberikan data valid dan menjabarkan
pendidikan di Indonesia dengan rasa. Ibarat ibu yang mengasuh anaknya dengan
cinta, begitu pula bu Elaa berjuang untuk pendidikan. Bu Elaa selalu meyakinkan
guru-guru bahwa mereka mampu merdeka belajar dan bu Elaa juga mengatakan bahwa murid ialah sekutu guru.
Begitu pula
ketika kongres, bu Elaa mengungkapkan kata-kata di atas dengan penuh cinta. Saya
tak kuat menahan tetesan air yang tetiba hadir dan menggenang di bola mata. Bu Elaa
merespon haruku dengan peluk. Tanpa ragu.
Sama dengan
perempuan lain yang sensitif, saya, yang baru saja dilantik sebagai pengurus
KGB Nusantara, merasa tanggung jawab besar yang harus saya dan kawan-kawan hadapi.
Jumat, 25
Oktober 2019 merupakan sebuah sejarah. KGB Nusantara melakukan kongres pertama
di Sekolah Cikal Serpong, Tangerah Selatan. Untuk pertama kalinya, komunitas
ini sah menjadi asosiasi profesi guru.
Dihadiri
135 penggerak dari berbagai kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, jujur
saja, saya merasa kecil di antara pengurus lainnya. Bukan karena badan saya yang
pendek, pengalaman saya untuk berorganisasi bukanlah apa-apa dibanding pengurus
lainnya. Namun saya merasa selalu didengar oleh mereka. Pengurus yang selama
lebih kurang tiga bulan berdikusi dengan seantero materi diskusi yang keren.
Ketika saya
berdiri di antara pengurus lainnya, saya merasa takjub. Apalagi dua hari
berselang, Minggu, 27 Oktober 2019 saya disumpah untuk menjadi pengurus KGB
Nusantara. Saat itu pula saya merasa inilah warna baru komunitas yang harus dijalankan
dengan penuh tanggung jawab dan kebahagiaan. Pengambilan sumpah itu bukan beban
bagi saya. Sebaliknya adalah semangat dalam hari-hari penuh makna.
Dengan berbagai
rangkaian kegiatan Kongres dan Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2019 membuat saya
mengingat masa lampau. Saya bergabung dengan KGB Kediri Raya untuk kali pertama
ketika penggerak KGB Kediri Raya mengadakan Temu Pendidik (Mudik) Daerah
selepas TPN 2016. Di hari itu pula, saya bergabung di grup whatsapp Guru Belajar Kediri Raya. Tahun berganti, saya mulai
mengikuti mudik dengan masif sampai sekarang.
Saya melihat
agregasi ide pembelajaran yang luar biasa dari komunitas ini. Anggota dan
penggerak menghidupi komunitas ini dengan menu diskusi yang beragam. Menyiraminya
dengan cerita hubungan guru dan murid yang unik. Semua yang ada di komunitas
ini berawal dari lingkup murid, sekolah, dan serba-serbi pendidikan. Menarik? Tentu
saja. Itulah yang membuat saya mau dan selalu ingin turut berdaya di komunitas
ini.
Kini, perjuangan akan dilanjutkan.
Mungkin dengan cara yang lebih berwarna dan menjadi manfaat untuk semua.
Semoga.


Komentar
Posting Komentar