Apakah Murid yang Tidak Mengerjakan Tugas itu Nakal?

Dalam hubungan pendidikan, yang belajar tidak hanya pelajar, tapi juga guru. Yang mengajar juga tidak hanya guru, tapi juga pelajar (Diferensiasi, 2017:71). Dengan zaman yang cepat bergulir, sudah selayaknya guru belajar. Bukan hanya menuntut murid untuk tahu, tapi guru juga harus berjalan beriringan untuk memahami keadaan yang semakin cepat berkembang.

Konsep merdeka belajar di Komunitas Guru Belajar Nusantara, tidak memandang merdeka sebagai kebebasan, tetapi merdeka mengambil tanggung jawab. Tanggung jawab untuk refleksi, mandiri menentukan cara belajar, dan berkomitmen pada tujuan.

***

Masa pandemi membuat saya merasa kalut dan tertimbun berkas untuk saya selesaikan. Ketika teman-teman guru banyak yang menceritakan berbagai keberhasilannya di masa pandemi, membuat saya iri dan tergugah. Saya ingin melakukan praktik dan bangkit dari kasur berkas yang semakin menggunung. Menyalahkan keadaan memang bukan satu cara kita lepas dari tanggung jawab. Kita boleh saja merasa berkata selesai pada dokumen atau laporan, tapi kita tidak bisa bilang selesai begitu saja ketika melihat murid butuh gandengan tangan virtual. Gandengan tangan yang saya maksud ialah rangkulan, dukungan, rasa sayang, dan komunikasi yang hangat.

Situasi pandemi bukan berlangsung 1-3 bulan, tapi lebih dari itu. Bisa dihitung sendiri. Kata bangkit pun sebenarnya sudah kedaluarsa. Saya terus mencari padanan kata yang tepat untuk saat ini. Jika ada yang menemukan, bisa menjawab tulisan saya ini dengan tulisan dan cerita ya.

Murid, guru, sekolah, orangtua, semua bergerak untuk bertahan dan berdiri tegak menghadapi kenyataan yang semakin cepat. Bagaimana tidak? Saat ini semua bergeser. Lihat saja pertemuan-pertemuan yang biasanya membutuhkan gedung besar dan memikirkan biaya konsumsi, saat ini bergeser di rumah saja. Ada beberapa yang sudah mencoba melakukan pertemuan tatap muka, namun harus menanggung dan mencari cara agar tetap aman dari paparan virus.

Semua ingin yang terbaik untuk kehidupan ini. Semua ingin mencari ramuan handal untuk semua sektor kehidupan. Jika ini ditarik ke lingkup sekolah, kita coba buka satu pintu. Dimulai dari orangtua yang dulunya harus bekerja untuk kelangsungan hidup dan biaya belajar anaknya, saat ini harus berpikir ganda. Orangtua juga harus mendampingi anaknya di rumah serta berkolaborasi dengan guru untuk proses belajar. Jika komunikasi orangtua, murid, dan guru berlangsung lancar, bisa dimungkinkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga aman. Jika sebaliknya, saya pun tidak tahu jawaban pasti. Hanya menduga, bisa jadi akan tetap berjalan, meski terseok atau pincang.

Di pintu kedua, ada guru yang mencari cara agar PJJ tetap berjalan dengan lancar. Ketika berbicara tentang guru, maka dekat hubungannya dengan sekolah. Sebab masih banyak sekolah yang menyeragamkan proses belajar. Masih ada guru yang tetap mencari sayap solusi agar pembelajaran sampai di murid di tengah keharusan melaksanakan tugas dari sekolah, ada pula yang terlanjur nyaman menggunakan strategi yang digunakan oleh sekolah.

Jika Anda guru, termasuk yang manakah? Ada guru yang sibuk melakukan banyak webinar untuk mendapatkan solusi yang tepat di kelasnya. Ada yang mengikuti webinar karena tugas dari sekolah, lalu hasilnya tidak diterapkan untuk muridnya. Ada yang sibuk mencari solusi dengan  sesama guru dan menemukan kegagalan serta keberhasilan ketika diterapkan di kelasnya, lalu dibagikan dalam temu pendidik daring atau menuliskan di media sosial.

Meski begitu banyak kesibukan guru yang memenuhi jadwal hariannya, mereka tetap bertahan. Banyak memiliki variasi untuk membangun komunikasi dengan murid. Sebagai guru, saya pernah mengalami krisis kepercayaan diri untuk melaksanakan PJJ. Mengapa? Sebab saya belum membaca dan bertanya ke teman-teman seperjuangan untuk melakukan komunikasi yang tepat dengan murid itu seperti apa?

Saya pernah merasa terpuruk dan memilih tunduk pada satu cara yang sudah disuguhkan oleh sekolah. Saya juga pernah merasa gamang dan menyalahkan diri sendiri ketika murid tidak sampai pada garis finis yang saya ekspektasikan. Saya lupa, semua itu harus dilakukan bersama, yaitu harus melibatkan. Pertanyaan saya, apakah tugas itu bermakna jika murid tidak dilibatkan dan murid tidak tahu arah serta tujuan belajar?

Saya merasa ingin menjadi hero tapi ternyata saya salah menggunakan kekuatan. Saya lupa bahwa murid ialah kekuatan saya. Murid ialah sekutu, bukan musuh. Sudah selayaknya mereka dilibatkan dan tahu tujuan belajar yang akan ia lakukan. Murid tidak seharusnya dibiarkan berjalan atau mencari jalan yang hampa, tanpa tahu mengapa ia berjalan.

Seperti yang saya alami diawal pandemi, kurang dari 20% murid yang mengumpulkan tugas. Setelah hal itu berlangsung, saya merasa perlu melihat kembali cara yang saya lakukan. Saya mulai berkomunikasi, membuat ruang diskusi, serta memanusiakan hubungan dengan wali murid, tak tertinggal muridnya juga. Refleksi tanpa henti.

Setelah melakukan itu semua, proses berjalan. Hasilnya memang belum 100%. Namanya warna-warni usaha, tetap ada kurangnya. Saya tetap bersyukur. Setidaknya langkah seribu batu bermula dari satu tindakan.

Kita lanjutkan menengok pintu ketiga, keadaan murid saat ini. Pintu untuk membuka hati bagaimana murid harus bertahan dengan belajar di rumah dan merasa tetap bersekolah meski tidak berseragam. Adaptasi yang belum ada rumus pastinya. Semua masih baru merasakan. Sama-sama belum kenal dengan perubahan yang harus diaplikasikan dengan cepat dan tanggap.

Dengan melihat kegagapan yang terjadi di semua lini, harus diakui daya juang murid sudah luar biasa hebat. Lebih dari elemen lainnya di dunia pendidikan. Di masa seperti saat ini, mereka harus tetap belajar dan mengerjakan tugas harian. Ya, mudah saja jika situasi normal. Cuma begini, hanya begitu, kata sejumlah orang. Tapi ini pandemi dengan berbagai aturan ketat. Mulai protokol kesehatan hingga penyesuaian dalam laku kehidupan.

 

Bahkan dengan kondisi seperti itu pun saat ini masih ada sekolah yang mengadakan penilaian tengah semester. Belum lagi tugas praktikum di sekolah kejuruan yang harus dikerjakan walau berada di rumah saja. Semua untuk murid, katanya. Agar mereka tetap belajar.

Ada murid yang menghadapinya sebagai hal yang asyik karena bisa belajar sambil rebahan. Ada yang kebingungan karena menurut mereka belajar itu harus didampingi oleh guru. Ada yang merasa hampa karena tidak ada tawa bersama di jam istirahat. Ada yang bingung tidak memiliki kuota untuk belajar. Ada pula yang penat dengan jadwal daring yang mengharuskan turun gunung. Benar-benar turun dari gunung karena rumahnya tak ada sinyal.

Apakah itu saja permasalahan murid? Tidak tentunya, masih banyak. Ada yang ingin didampingi orangtua, tetapi dalam keluarganya memiliki 4 anak yang sama-sama masih sekolah dan ia anak tertua. Ada yang membantu orangtuanya bekerja sehingga beberapa tugasnya harus terabaikan. Ada yang terlanjur tidak peduli karena gelontoran tugas lebih banyak dibanding komunikasi dan penjelasan.

Ada juga murid yang merasa banyak teman untuk bermain daring di ponsel, tapi tidak satu pun yang bisa diajak kerja sama dalam menyelesaikan tugas sekolah. Ada yang merasa penat dengan layar ponsel dan kegiatan pelaporan tugas tanpa umpan balik yang menyenangkan. Ada pula yang merasa dituntut menjadi murid baik – tapi dia tidak tahu caranya menjadi murid baik di masa pandemi. Ada yang ingin didampingi gurunya, tetapi merasa tidak mendapatkan dukungan itu dan lain sebagainya.

Banyak faktor yang dialami murid, begitu juga guru. Lalu masih sanggupkah kita berkalimat, ‘murid yang tidak mengerjakan tugas itu nakal’, sebelum kita tahu latar belakang yang dialami murid?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Pendidikan di Indonesia

Alami Tergeser Artifisial

Laptop ASUS Terbaik: Ini Jawabannya!