Untukmu selamanya
“Kriiiiiiing.........” Bunyi beker mengejutkanku pagi ini, tapi aku enggan sekali untuk bangun dari tempat tidur. Lalu suara ibuku menyusul beker itu seolah memecahkan isi rumah. Akupun bergegas bangun untuk mandi dan siap-siap ke sekolah. Pukul 06.15 aku baru sampai dengan mimi sobatku. Kita langsung munuju lapangan setelah memarkir sepeda motor, semua siswa baris rapi dan aku bersama mimi menyusul di barisan paling belakang. Sambil mendengar pengarahan try out dari waka.kesiswaan, aku memandangi gerbang sekolah. Aku terus berharap erif cepat datang agar tidak terlalu terlambat. Pandanganku gugup, “Apa dia sudah di perjalanan? , ataukah masih di rumah untuk setrika seragamnya? , atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada diriya?” berbagai pertanyaan muncul di benakku. Suara hatiku pun gemuruh tak pasti seakan mengalahkan suara-suara yang ada di sekitarku. “Alhamdulillah.....” ucapku saat ku lihat dia berjalan dari arah gerbang, menuju ke parkiran dan menyusul k...